Make your own free website on Tripod.com

AL-MUHAFADHOH 'ALA QODIMISHOLIH WAL-AKHDZU BIL JADIDIDIL ASHLAH

MEMPERTAHANKAN NILAI-NILAI SALAF YANG RELEVAN DAN MENGAMBIL HAL BARU YANG LEBIH BAIK

 

P  O  N  D  O  K    P  E  S A  N  T  R  E  N

L  A  N  G  I  T  A  N

Jl. Raya Babat - Tuban PO. BOX 02 Babat 62271

Telp. (0322)451156 Fax. (0322)453194

28/02/2005 17:30

                   e-mail : langitan@plasa.com - langitan@langitan.cjb.net

WALAU SANGAT SEDERHANA SEMOGA WEB INI DAPAT MEMBERI MANFAAT DAN KAMI TUNGGU KRITIK SERTA SARANNYA

upload pertama :28-02-2005 M

    Klik : seputarlangitan.cjb.net

PONDOK PESANTREN LANGITAN

Lebih dari satu  setengah abad Pondok Pesantren Langitan telah memberikan sumbangsih dan kontribusinya dalam rangka ikut memberdayakan sumber daya manusia (SDM) dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Goresan emas telah terukir, sebuah fakta sejarah yang tidak dapat dianulir.

Melihat betapa besarnya kiprah dan peranan yang telah disumbangkannya kepada agama, masyarakat dan bangsa, maka sudah selayaknya bila akhir-akhir ini banyak kalangan yang bersimpati dan memberikan respon positif terhadap eksistensi Pondok Pesantren Langitan.

Agar mempermudah semua pihak baik santri, alumni, atau masyarakat secara umum dalam mengenal lebih dekat keberadaan Pondok Pesantren Langitan, maka berikut ini kami sajikan “potret” Pondok Pesantren Langitan dalam bentuk tulisan yang sederhana. Semoga bermanfaat. Amin.

Awal

LOKASI DAN NAMA PONDOK PESANTREN LANGITAN

Pondok Pesantren Langitan adalah termasuk salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Berdirinya lembaga ini jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu tepatnya pada tahun 1852 M, di Dusun Mandungan Desa Widang Kecamatan Widang Kabupaten Tuban Jawa Timur.

Komplek Pondok Pesantren Langitan terletak di samping Bengawan Solo dan berada di atas areal tanah seluas kurang lebih 7 hektar serta pada ketinggian kira-kira tujuh meter di atas permukaan laut. Lokasi pondok berada kira-kira empat ratus meter sebelah selatan ibukota Kecamatan Widang, atau kurang lebih tiga puluh kilo meter sebelah selatan ibukota Kabupaten Tuban, juga berbatasan dengan Desa Babat Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan dengan jarak kira-kira satu kilo meter.

Dengan lokasi yang setrategis ini Pondok Pesantren Langitan menjadi mudah untuk dijangkau melalui sarana angkutan umum, baik sarana transportasi bus, kereta api, atau sarana yang lain.

Adapun nama Langitan itu adalah merupakan perubahan dari kata Plangitan, kombinasi dari kata plang (jawa) berarti papan nama dan wetan (jawa) yang berarti timur. Memang di sekitar daerah Widang dahulu, tatkala Pondok Pesantren Langitan ini didirikan pernah berdiri dua buah plang atau papan nama, masing-masing terletak di timur dan barat. Kemudian di dekat plang sebelah wetan dibangunlah sebuah lembaga pendidikan ini, yang kelak karena kebiasaan para pengunjung menjadikan plang wetan sebagai tanda untuk memudahkan orang mendata dan mengunjungi pondok pesantren, maka secara alamiyah pondok pesantren ini diberi nama "Plangitan" dan selanjutnya populer menjadi Langitan.

Kebenaran kata Plangitan tersebut dikuatkan oleh sebuah cap bertuliskan kata Plangitan dalam huruf Arab dan berbahasa Melayu yang tertera dalam kitab “Fathul Mu’in” yang selesai ditulis tangan oleh KH. Ahmad Sholeh, pada hari Selasa 29 Robiul Akhir 1297 H.

Awal

SEJARAH BERDIRI DAN PERKEMBANGANNYA

Lembaga pendidikan yang sekarang ini dihuni oleh lebih dari 5500 santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan sebagian Malaysia ini dahulunya adalah hanya sebuah surau kecil tempat pendiri Pondok Pesantren Langitan, KH. Muhammad Nur mengajarkan ilmunya dan menggembleng keluarga dan tetangga dekat untuk meneruskan perjuangan dalam mengusir kompeni penjajah dari tanah Jawa.

KH. Muhammad Nur mengasuh pondok ini kira-kira selama 18 tahun (1852-1870 M), kepengasuhan pondok pesantren selanjutnya dipegang oleh putranya, KH. Ahmad Sholeh. Setelah kira-kira 32 tahun mengasuh pondok pesantren Langitan (1870-1902 M.) akhirnya beliau wafat dan kepengasuhan selanjutnya diteruskan oleh putra menantu, KH. Muhammad Khozin. Beliau sendiri mengasuh pondok ini selama 19 tahun (1902-1921 M.). Setelah beliau wafat matarantai kepengasuhan dilanjutkan oleh menantunya, KH. Abdul Hadi Zahid selama kurang lebih 50 tahun (1921-1971 M.), dan seterusnya kepengasuhan dipercayakan kepada adik kandungnya yaitu KH. Ahmad Marzuqi Zahid yang mengasuh pondok ini selama 29 tahun ( 1971-2000 M. ) dan keponakannya yakni KH. Abdulloh Faqih. Untuk lebih jelasnya tentang biografi para Pengasuh Pondok Pesantren Langitan dapat dibaca dalam “Biografi Ringkas Lima Pengasuh Pondok Pesantren Langitan”.

Perjalanan Pondok Pesantren Langitan dari periode ke periode selanjutnya senantiasa memperlihatkan peningkatan yang dinamis dan signifikan namun perkembangannya terjadi secara gradual dan kondisional. Bermula dari masa KH. Muhammad Nur yang merupakan sebuah fase perintisan, lalu diteruskan masa KH. Ahmad Sholeh dan KH. Muhammad Khozin yang dapat dikategorikan periode perkembangan. Kemudian berlanjut pada kepengasuhan KH. Abdul Hadi Zahid, KH. Ahmad Marzuqi Zahid dan KH. Abdulloh Faqih yang tidak lain adalah fase pembaharuan.

Dalam rentang masa satu setengah abad Pondok pesantren Langitan telah menunjukkan kiprah dan peran yang luar biasa, berawal dari hanya sebuah surau kecil Pondok Pesantren Langitan kini telah berkembang menjadi sebuah pondok yang representatif dan populer di mata masyarakat luas baik dalam negeri maupun manca negara. Banyak tokoh-tokoh besar dan pengasuh pondok pesantren yang dididik dan dibesarkan di Pondok Pesantren Langitan ini, seperti KH.Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ary, KH. Syamsul Arifin (ayahanda KH. As’ad Syamsul Arifin) dan lain-lain.

Dengan berpegang teguh pada kaidah “Al-Muhafadhotu Alal Qodimis Sholeh Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah” (memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya yang baru yang konstruktif), maka Pondok Pesantren Langitan dalam perjalanannya senantiasa melakukan upaya-upaya perbaikan dan kontektualisasi dalam merekonstruksi bangunan-bangunan sosio kultural, khususnya dalam hal pendidikan dan manajemen.

Usaha-usaha ke arah pembaharuan dan modernisasi memang sebuah konsekwensi dari sebuah dunia yang modern. Namun Pondok Pesantren Langitan dalam hal ini mempunyai batasan-batasan yang kongkrit, pembaharuan dan modernisasi tidak boleh merubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren.

Sehingga dengan demikian Pondok Pesantren Langitan tidak sampai terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi, namun justru sebaliknya dapat menempatkan diri dalam posisi yang strategis, dan bahkan kadang-kadang dianggap sebagai alternatif.

Awal

 

PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

 

TUJUAN

METHODOLOGI

Pondok pesantren secara umum bagaimanapun tipe dan latar belakangnya meletakkan pendidikan dan pengajaran sebagai tolak ukur bagi aktifitas-aktifitas lainnya. Dapat dikatakan bahwa pendidikan dan pengajaran adalah merupakan jantung dan sumber kehidupan terhadap kelangsungan dan eksistensi sebuah pesantren.

1. TUJUAN

Tujuan pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Langitan adalah tidak lepas dari tiga pokok dasar:

a. Membina anak didik menjadi manusia yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas (‘alim) yang bersedia mengamalkan ilmunya, rela berkorban dan berjuang dalam menegakkan syiar Islam.

b. Membina anak didik menjadi manusia yang mempunyai keperibadian yang baik (sholeh) dan bertaqwa kepada Alloh SWT serta bersedia menjalankan syariatnya.

c. Membina anak didik yang cakap dalam persoalan agama (kafi), yang dapat menempatkan masalah agama pada proporsinya, dan bisa memecahkan berbagai persoalan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat

  Topik 

 

 

Awal

 

2.

 METHODOLOGI

 

 

 

 

Sebuah program tanpa didasari oleh methode yang baik tidak akan berjalan efektif. Bahkan kadang-kadang dapat berbalik arah dari orientasi semula. Pondok Pesantren Langitan selama kurun waktu yang cukup panjang ini telah menerapkan beberapa methode pendidikan dan pengajaran dalam sistem klasikal (madrasiyah) dan non klasikal (ma’hadiyah).

A. SISTEM KLASIKAL (MADRASIYAH)

Sistem pendidikan klasikal adalah sebuah model pengajaran yang bersifat formalistik. Orientasi pendidikan dan pengajarannya terumuskan secara teratur dan prosedural, baik meliputi masa, kurikulum, tingkatan dan kegiatan-kegiatannya.

Pendidikan dengan sistem klasikal ini di Pondok Pesantren Langitan (baik pondok putra maupun pondok putri) telah berdiri tiga lembaga yaitu Al Falahiyah, Al Mujibiyah dan Ar raudhoh.

Lembaga pendidikan Al Falahiyah berada di pondok putra, lembaga pendidikan ini jenjang pendidikannya mulai dari RA/TPQ dengan masa pendidikan selama 2 tahun, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, masing-masing masa pendidikannya 3 tahun.

Lembaga pendidikan Al Mujibiyah berada di pondok putri bagian barat. Adapun tingkat pendidikannya adalah mulai dari tingkat MI, MTs dan MA, masing-masing selama 3 tahun.

Lembaga pendidikan Ar raudhoh berada di pondok putri di bagian timur. Fase pendidikannya adalah mulai MI, MTs, MA, masing-masing selama tiga tahun.

Ketiga lembaga di atas satu sama lain memiliki kesamaan dan keserupaan hampir dalam semua aspek termasuk juga kurikulumnya, karena ketiganya berada di bawah satu atap yaitu Pondok Pesantren Langitan . Adapun kurikulum Pondok Pesantren Langitan dapat dibaca pada “Daftar Kurikulum Madrasah Al Falahiyah Pondok Pesantren Langitan”.

Sebagai penunjang dan pelengkap kegiatan yang berada di madrasah dan bersifat mengikat kepada semua peserta didik sebagai wahana mempercepat proses pemahaman terhadap disiplin ilmu yang diajarkan, maka di Pondok Pesantren Langitan juga diberlakukan ekstra kurikuler yang meliputi :

1. Musyawaroh atau Munadzoroh (diskusi)

Kegiatan musyawaroh berlangsung setiap malam mengecualikan malam Rabo dan malam Jum’at. Methode ini dimaksudkan sebagai media bagi peserta didik untuk menelaah, memahami dan mendalami suatu topik atau masalah yang terdapat dalam masing-masing kitab kuning.

Dari aktivitas ini diharapkan lahir sebuah generasi potensial yang memiliki pemikiran-pemikiran kritis dan berwawasan luas serta terampil dalam menyerap dan menggali suatu materi sekaligus mensosialisasikannya kepada masyarakat luas.

2. Muhafadhoh (hafalan)

Methodhe muhafadhoh atau hafalan adalah sebuah sistem yang sangat identik dengan pendidikan tradisional termasuk pondok pesantren. Kegiatan ini juga bersifat mengikat kepada setiap peserta didik dan diadakan setiap malam selasa. Adapun standart kitab yang dijadikan obyek hafalan (muhafadhoh) menurut tingkatannya masing-masing adalah ALALA, RO’SUN SIRAH, AQIDATUL AWAM, HIDAYATUSSIBYAN, TASHRIF AL ISTILAKHI DAN LUGHOWI, QOWAIDUL I’LAL , MATAN AL JURUMIYAH, TUHFATUL ATHFAL, ARBA’IN NAWWAWI, ‘IMRITHI, MAQSHUD, ‘IDATUL FARID, ALFIYAH IBNU MALIK, JAWAHIRUL MAKNUN, SULAMUL MUNAWAROQ DAN QOWAIDUL FIQHIYYAH.

  Topik 

 

 

Awal

B. SISTEM NON KLASIKAL (MA’HADIYYAH)

Pendidikan non klasikal dalam Pondok Pesantren Langitan ini menggunakan methode wethon atau bandongan dan sorogan. Methode wethon atau bandongan adalah sebuah model pengajian di mana seorang kiai atau ustadz membacakan dan menjabarkan isi kandungan kitab kuning sementara murid atau santri mendengarkan dan memberi ma’na.

Adapun sistem sorogan adalah berlaku sebaliknya yaitu santri atau murid membaca sedangkan kiai atau ustadz mendengarkan sambil memberikan pembetulan-pembentulan, komentar atau bimbingan yang diperlukan. Kedua methode ini sama-sama mempunyai nilai yang penting dan ciri penekanan pada pemahaman sebuah disiplin ilmu, keduanya saling melengkapi satu sama lainnya.

Dalam pelaksanaannya sistem non klasikal (ma’hadiyah) ini dibagi menjadi dua kelompok:

1. Umum, yaitu program pendidikan non klasikal yang dilaksanakan setiap hari (selain hari Selasa dan Jum’at). Adapun waktunya beragam menyesuaikan kegiatan di madrasah. Pendidikan ini diasuh oleh Majlis Masyayikh, asatidz dan santri senior.

2. Tahassus yaitu program pendidikan khusus bagi santri pasca Aliyah dan santri-santri lain yang dianggap telah memiliki penguasaan ilmu-ilmu dasar seperti Nahwu, Shorof, Aqidah, Syariah. Program ini lebih populer disebut Musyawirin, diasuh langsung oleh Majlis Masyayekh. Adapun pelaksanaanya adalah setiap hari kecuali hari Selasa dan Jum’at, materi yang diajarkan adalah fan fiqh seperti Fathul Muin dan Mahalli, dan fan Hadits seperti Shohihul Bukhori.

  Topik 

 

 

Awal

KEADAAN SANTRI DAN ASAL DAERAH

Santri putra Pondok Pesantren Langitan pada akhir periode ini berjumlah 1.883 orang santri dari jumlah keseluruhan santri Pon. Pes. Langitan (putra/putri) yang berjumlah kurang lebih 4.000 orang santri. Jumlah santri saat ini mengalami penurunan 8 persen bila dibandingkan dengan jumlah santri pada akhir periode 1419-1422 H. /1999 -2001 M. Yang berjumlah 2.028 orang. Namun dalam awal periode ini jumlah santri sebenarnya mencapai 2.215 orang. Santri sebanyak itu semuanya ditempatkan dalam 9 pondok (asrama santri) di Pon. Pes. Langitan. Penurunan jumlah santri yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini lebih banyak disebabkan oleh menurunnya kondisi perekonomian rakyat Indonesia.

Santri sebanyak itu tidak hanya berasal dari daerah sekitar pesantren saja, tetapi juga berasal dari daerah - daerah lain yang cukup jauh, misalnya dari pulau - pulau lain bahkan dari luar negeri. Ini menandakan bahwa Pon. Pes. Langitan dengan tipologi salafnya, dan dengan sistem dan metodologi yang diterapkannya, benar-benar telah diterima oleh masyarakat.

Awal

AKTIFITAS SANTRI

Dalam era globalisasi hampir semua sendi kehidupan umat manusia mengalami perubahan yang amat dahsyat. lnstitusi sosial kemasyarakatan, kenegaraan, keluarga bahkan institusi keagamaan tidak luput dari pengaruh arus deras globalisasi. Akibatnya tidak sedikit terjadi penjomplangan nilai-nilai di segala bidang kehidupan. Apa reaksi santri dan pesantren menghadapi hal ini?. Menutup diri? Tentu saja tidak.

Santri adalah bagian dari masyarakat yang telah menanamkan harapan besar kepadanya. Agar disaat pulang nanti santri mampu mengentaskan mereka dari penderitaan yang menggerogoti jiwa dan tubuh. Mampu membimbing dan mengarahkan menuju hidup dalam kemapanan. Melihat tugas dan tantangan yang begitu besar, maka tak ada lagi solusi, selain menjadikan santri sebagai figur manusia yang kuat jiwanya, tidak mudah terguncang oleh gelombang ganas kehidupan, juga cerdas dan luas wawasannya agar bisa memecahkan segala masalah yang menimpa dirinya dan masyarakat sekitarnya. Selain itu juga tanggap dan terampil.

Untuk membentuk figur santri seperti ini, maka dituntut adanya program yang betul - betul terarah. Konstruksi bangunan aktifitas santri semuanya harus mengarah kepada tujuan ini. Disinilah arti penting aktivitas santri dan sistem bangunannya, karena hal inilah yang akan membentuk kepribadian dan prilaku santri ketika sudah berjuang di tengah - tengah masyarakat.

Al hamdulillah, hal ini sudah menjadi perhatian di PP. Langitan. Setidaknya berbagai aktifitas santri Langitan sudah menuju ke arah sana, meskipun masih belum mencapai kesempurnaan.

Awal

SARANA DAN PRA SARANA

Tuntutan bagi sebuah percapaian ilmu sangat erat kaitannya dengan tersedianya sarana dan pra sarana yang representatif. Dalam hal ini upaya kongkrit telah dilakukan oleh Pondok Pesantren Langitan dengan melakukan penataan, pelestarian, dan pengembangan dalam bidang sarana dan pra sarana.

Adapun fasilitas atau sarana yang telah disediakan oleh Pondok Pesatren Langitan adalah:

a. Tempat tinggal

b. Tempat Ibadah

c. Tempat belajar mengajar

d. Pusat perbelanjaan

e. Kantin

f. Ruang perawatan (UKS)

g. Gedung perpustakaan

h. Wartel

i. Gedung pelatihan dan ketrampilan

          j. Lapangan olah raga

 

 

Awal

 

Webmaster